Rabu, 04 Januari 2017

ASAL USUL MANUSIA MENURUT AGAMA HINDU





PENCIPTAAN MENURUT AGAMA HINDU
Penciptaan dalam agama Hindu dijelaskan dalam Prasna Upanishad sebagai berikut: "Pada awalnya Sang Pencipta (Tuhan) merindukan kegembiraan dari proses penciptaan. Dia lalu melakukan meditasi. Lahirlah Rayi, jat atau materi dan Prana, roh kehidupan, lalu Tuhan berkata: "kedua hal ini akan melahirkan kehidupan bagiku". Demikianlah mahluk hidup diciptakan, melalui suatu perkembangan perlahan dari dua unsur yang mula-mula diciptakan Tuhan sehingga mencapai bentuk-bentuknya sekarang.
Bagaimanakah alam semesta diciptakan? Mundaka Upanishad menyebutkan : "Seperti laba-laba mengeluarkan dan menarik benangnya, demikianlah alam semesta ini muncul dari Tuhan Yang Maha Esa". laba-laba mengeluarkan jaringnya secara perlahan-lahan dari perutnya. Menurut penelitian ilmiah modern, alam semesta kita sampai sekarang masih berkembang secara perlahan-lahan. menurut teori ledakan besar (big bang) alam semesta ini dari titik kecil perlahan-lahan berkembang makin membesar seperti balon karet yang ditiup.
Dari pernyataan di atas jelaslah menurut agama Hindu kehidupan pada alam semesta ini berkembang melalui evolusi.


JIWA DAN RAGA
Pasangan dua kata di atas sering kita temukan dalam lagu-lagu kebangsaan kita. bangunlah badannya, bangunlah jiwanya. Padamu negeri, kupersembahkan jiwa dan ragaku. Dalam percakapan sehari-hari kita mengatakan "badanku terasa ngilu dan sakit". kalau kita dikhianati oleh seseorang kita mengatakan "hatiku sakit sekali". Aku hidup dalam kelimpahan harta, tapi jiwaku gersang", demikian mungkin yang dikatakan seseorang yang secara materi berlebihan namun miskin secara spiritual.
Badanku, hatiku, jiwaku! Jadi siapa "aku" yang memiliki badan, hati dan jiwa?
Manusia terdiri dari badan dan jiwa. Badan tanpa jiwa ibarat mobil yang lengkap badan dan mesinya tapi tanpa aki. mobil ini tidak bisa bergerak, karena tidak ada panas atau api yang menghidupkan mesinnya. Jiwa tanpa raga ibarat aki tanpa mobil, panas atau tenaga yang tersimpan dalam aki menjadi tenaga yang tidur karena tidak ada mesin untuk digerakkan.
Jiwa dan raga itu merupakan satu kesatuan. Tanpa Jiwa tidak dapat melakukan aktivitasnya.
Pengandaian diatas mengikuti pengandaian dalam Katha Upanishad yang mengatakan badan adalah kereta, akal(ilmu pengetahuan) adalah kusirnya, pikiran adalah kendali, dan indriya adalah kuda-kudanya. Sedangkan jiwa adalah pemilik kereta.
Dikatakan selanjutnya, mereka yang mengetahui hakikat dan tujuan hidup ibarat kusir yang cakap dengan kuda terlatih baik, akan mencapai tujuan perjalanan. Tapi meeka yang tidak mengetahui hakikat dan tujuan hidup, ibarat kusir bodoh dengan kuda liar, tidak akan mencapai tujuan perjalanan, akan mengembara dari satu kematian kepada kematian yang lain.

DARI MANA DATANGNYA BADAN
Badan datang dari orang tua kita, Percampuran sperma dan ovum dari bapak dan Ibu kita membentuk badan dalam rahim ibu.

DARI MANA DATANGNYA JIWA
Agama-agama rumpun Yahudi mengatakan jiwa atau roh itu ditiupkan oleh Tuhan kepada janin ketika masih dalam kandungan ibu. Ketika itu Tuhan juga menetapkan nasib atau jalan hidup bayu ini setelah ia lahir.
Menurut agama Hindu, jiwa kita sudah ada sebelumnya dan ia masuk ke tubuh bayi dengan membawa "karma wasana" atau hasil-hasil perbuatan dalam hidupnya sebelumnya.

TUBUH YANG TAK KEKAL
Badan merupakan bagian yang tidak kekal dari manusia. Karena ia berubah. Dari setetes cairan ia tumbuh menjadi janin, lahir sebagai bayi berkembang menjadi manusia dewasa. Badan yang tegap ketika remaja berubah menjadi bungkuk ketika tua. Kulit yang halus dan kencangketika remaja, berobah menjadi kisut dan layu ketika tua. Ketia sudah mati badan hancur. badan disebut stula sarira.




JIWA YANG KEKAL
Jiwa merupakan bagian yang kekal dari manusia. Ia tak pernah berobah. Ia tidak mati ketika badan mati. Iatidak terluka oleh senjata, tidak terbakar oleh api. Ia ada selamanya. Jiwa disebut sukma sarira.
Menurut agama rumpun Yahudi, badan manusia hanya terbuat dari satu jat yaitu tanah liat. Menurut agama Hindu badan terdiri dari lima unsur yang disebut panca maha buta yaitu : tanah (pertiwi), air (apah), api (teja), angin (bayu) dan ether (akasa). Pandangan Hindu kemudian dibenarkan oleh hasil penelitian ahli fisika ternama Albert Eistein bersama ahli fisika bangsa India Satyendra Nath Bose. Dalam bahasa fisika unsur-unsur at adalah : padat, cair, gas dan plasma dan unsur yang kelima disebut KBE (kondesat Bose-Eistein). *****)
Jiwa berasal dari Tuhan. Atman adalah jiwa dari mahluk. Brahman adalah jiwa alam semesta. Atman merupakan bagian dari Brahman. Seperti setitik air hujan yang berasal dari samudera luas. Mengenal Raja Bunu sebagai leluhur atau cikal bakal dari umat manusia yang ada di bumi, belum merupakan pemahaman menyeluruh bagi umat Hindu Kaharingan. Perjalanan Raja Bunu sebagai cikal bakal umat manusia belum sepenuhnya terungkap secara gambaing, sehingga umat Hindu Kaharingan masih banyak yang kurang mengetahui bagaimana proses penciptaan manusia menurut kitab suci Panaturan atau berdasarkan ajaran Hindu Kaharingan. Oleh karena itu akan sangat “nyambung” apabila kita mulai menggali bagaimana sebenarnya proses penciptaan manusia menurut Panaturan atau ajaran Hindu Kaharingan.
Menurut konsep keyakinan Kristen maupun Islam manusia pertama adalah Adam dan Hawa, kedua orang inilah yang diyakini sebagai cikal bakal manusia di bumi ini. Namun doktrin itu berbeda dengan ajaran atau konsep Hindu Kaharingan mengenai proses penciptaan manusia serta serta siapa yang merupakan cikal bakal umat manusia di bumi. Lalu bagaimanakah konsep penciptaan manusia menurut Hindu Kaharingan ?. Proses penciptaan manusia menurut Hindu Kaharingan dijelaskan dalam kitab suci Panaturan .
Pada proses penciptaan selanjutnya atas kuasa Ranying Hatala, maka Garing Lalunjung Pulang dan Kumpang Duhung keluar dari Kayu Erang Tingang dan kejadian menjadi wujud laki-laki yang diberi nama Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan yang berwujud perempuan bernama Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun. Kemudian mereka berdua bertemu dan akhirnya tinggal bersama. Karena tanpa adanya proses upacara perkawinan, sehingga menyebabkan Kameluh Putak Bulau mengalami Pajanjuri darahnya (keguguran) yang berulang-ulang sampai dua belas kali. Melihat hal demikian, Ranying Hatala memerintahkan Raja Uju Hakanduang untuk melaksanakan Upacara Perkawinan bagi keduanya sesuai wahyu Ranying Hatala. Tata cara perkawinan inilah yang menjadi contoh bagi umat Hindu Kaharingan di dunia. Setelah perkawinan Manyamei Tunggul Garing dilaksanakan maka Kameluh Putak Bulau hamil dan melahirkan tiga anak laki-laki kembar yang kemudian diberi nama yaitu  Raja Sangen, Raja Sangiang, Raja Bunu. Dari masa kehamilan sampai saat melahirkan Manyamei Tunggul Garing dan Kameluh Putak Bulau melakukan upacara-upacara sesuai dengan yang diperintah oleh Ranying Hatala, seperti upacara Nyaki Ehet (upacara tujuh bulan bayi dalam kandungan) hingga upacara Nahunan (upacara pemberian nama). Upacara-upacara seperti inilah yang dilakukan oleh umat Hindu Kaharingan hingga sekarang.Pada waktu kecil Raja Bunu banyak mengalami peristiwa atau permasalahan hidup dari kedua kakaknya. Raja Sangen dan Raja Sangiang dapat tumbuh sehat karena memakan Pantar Pinang, namun lain halnya dengan adik mereka. Raja Bunu tidak dapat memakan Pantar Pinang sehingga sering sakit-sakitan dan pertumbuhannya terganggu, melihat hal demikian Ranying Hatala melalui Raja Uju Hakanduang memberikan Behas Manyangen Tingang. Barulah Raja Bunu bisa tumbuh sehat dan gemuk karena memakan Behas tersebut.
Setelah ketiganya beranjak dewasa, mereka diberikan ujian oleh Ranying Hatala berupa sepotong besi yang ujungnya timbul dipermukaan air dan ujung lainnya tenggelam. Pada saat mereka bertiga memegang besi tersebut, kedua saudara Raja Bunu memegang bagian ujung yang timbul dan Raja Bunu sendiri memegang ujung yang tenggelam. Hal inilah yang menyebabkan kita sebagai keturunan Raja Bunu akan mengalami kematian. Sedangkan keturunan kedua saudaranya tidak akan mengalami kematian. Selain ujian tersebut masih banyak lagi ujian-ujian yang lain dihadapi oleh Raja Bunu, namun selalu mendapatkan kegagalan. Sehingga hal inilah yang sudah ditetapkan oleh Ranying Hatala bahwa Raja Bunu beserta keturunannya untuk mengisi kehidupan di bumi ini dan akan mengalami proses lahir, hidup, dan mati.
Paparan ini merupakan sebuah pengembangan dari pemahaman yang ada tentang proses penciptaan manusia pertama. Dimana kemudian Raja Bunu beserta keturunannyalah yang ditetapkan oleh Ranying Hatala untuk diturunkan dan menempati Pantai Danum Kalunen yang telah diciptakan Ranying Hatala. Jadi jelaslah bahwa proses penciptaan manusia menurut Hindu Kaharingan berbeda dengan ajaran agama-agama lainnya. Setiap umat Hindu Kaharingan idealnya mengetahui dasar-dasar dari ajarannya, lebih-lebih mengenai proses penciptaan manusia menurut Panaturan.
Dalam Weda asal muasal alam semesta dikatikan langsung dengan Hyang Widhi yang diuraikan seperti dengan penjelasan sains modern. Davies menyatakan bahwa saat ini mayoritas ahli kosmologi dan astrologi menyatakan bahwa terjadinya penciptaan terjadi sekitar delapan belas milyar tahun yang lalu, akibat dari sebuah “dentuman dahsyat” (Big Bang). Agama dipandang menyajikan sebuah pengetahuan yang didapat dari orang suci melalui intuisinya.
Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Pancamahabhuta atau lima unsur materi. Alam semesta merupakan penggabungan dari kekuatan Purusa dan Prakerti(kecerdasan dari kekuatan tertinggi yang mengendalikan kekuatan material). Alam dipandang sebagai sosok suatu mahluk hidup yang sangat besar yang merupakan perwujudan dari kekuatan kosmis.
Utaekam neva drsyate tatah parisivajiyasi devata sa mama priya.
(Atharvaveda X.8.25)
Artinya: Yang Satu (yaitu sang Maha Prakerti) adalah bahkan lebih kecil dari pada anak kecil dan yang lain(yaitu jiwatman atau jiwa individu)tidak dapat dilihat. Tetapi dari yang lebih halus dan dewata yang meliput semua(Jiwa Agung) adalah satu-satunya objek(tujuan)dari cinta.
Dari sloka ini secara tidak langsung dinyatakan bahwa Hyang Widhi sebenarnya adalah sosok kekuatan kosmis dimana ciptaan merupakan bagian dari kekuatan kosmos itu sehingga dikatakan Tuhan meliputi semuanya. Pernyataan ini diperkuat oleh ayat.



Purnat purnam udacati purnam purnema sicyate
(Atharvaveda X.8.29)
Artinya: Alam semesta yang sempurna berasal dari Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Sempurna. Alam semesta yang sempurna ini diberikan makanan(energi untuk tetap bertahan) oleh Tuhan yang Maha Esa Yang Maha Sempurna.
Dalam Kitab Purana dan Upanisad.
Menurut kepercayaan Hindu, alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap, demikian pula Brahman menciptakan alam semesta tahap demi tahap. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Dengan tapa itu, Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan, Brahman menyatu ke dalam ciptaannya.
Menurut kitab Purana, pada awal proses penciptaan, terbentuklah Brahmanda. Pada awal proses penciptaan juga terbentuk Purusa dan Prakerti. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta. Tahap ini terjadi berangsur-angsur, tidak sekaligus. Mula-mula yang muncul adalah Citta (alam pikiran), yang sudah mulai dipengaruhi oleh Triguna, yaitu Sattwam, Rajas dan Tamas. Tahap selanjutnya adalah terbentuknya Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi (naluri); Manah (akal pikiran); Ahamkara (rasa keakuan). Selanjutnya, munculah Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula Dasendria (sepuluh indria).

1 komentar: